Mengapa Fanatisme Ber-HKI Penting? Ini Pandangan St. Erwin Napitupulu

HKI-dan-HKBP-Telaah-Historis-atas-Identitas-dan-Perkembangan-Gereja
HKI dan HKBP: Telaah Historis atas Identitas dan Perkembangan Gereja
Spread the love

PENDAHULUAN

Dalam rangka jubileum 80 tahun HKI, penulis diminta oleh Panitia Jubileum 80 Tahun HKI yang pada tahun ini dipusatkan di Pematangsiantar untuk membuat tulisan dengan judul “Menumbuhkan Sikap Fanatisme ber-HKI”.

Melihat judul tersebut, ada tiga pertanyaan yang perlu dicermati, yaitu:

  1. Apakah warga HKI sejak berdirinya telah mempunyai rasa fanatis terhadap HKI?
  2. Apakah rasa fanatisme warga HKI telah mulai pudar atau terdegradasi?
  3. Apakah perlu ditumbuhkembangkan rasa fanatisme ber-HKI?

Pertanyaan tersebut memerlukan jawaban yang mampu memberikan solusi dalam rangka menanamkan dan menumbuhkembangkan rasa fanatisme warga HKI, yang pada gilirannya juga akan dapat mengembangkan HKI secara keseluruhan.

Berbicara tentang fanatisme, ada pendapat yang mengatakan bahwa fanatisme berkonotasi negatif, karena apabila ada rasa fanatis seseorang terhadap sesuatu, berarti hal lain yang berkenaan dengan itu dianggap tidak benar.

Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English dikatakan bahwa fanatic adalah filled with excessive (and often mistaken) enthusiasm, misalnya dalam agama. Sedangkan fanaticism adalah unreasoning enthusiasm. Artinya, fanatisme adalah kepercayaan atau keyakinan yang sangat kuat dan melebihi dari apa yang sewajarnya, atau rasa keinginan yang sangat kuat tanpa alasan yang rasional.

Demikian juga dalam hidup beragama, penulis berpendapat bahwa rasa fanatisme sebagai warga Kristen perlu ditanamkan (Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan) bagi warga jemaat sejak masih anak-anak hingga dewasa.

Namun, rasa fanatisme kekristenan yang dimaksud bukan berarti bahwa kita tidak menghargai atau menutup diri terhadap saudara kita yang tidak seiman. Fanatisme yang buta justru akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan bersama, terlebih dalam konteks Indonesia yang majemuk.

Dengan memiliki rasa fanatisme terhadap HKI, maka akan timbul militansi dari warga untuk terus berjuang dan membangun HKI agar lebih maju serta lebih baik dari kondisi saat ini.

SEKILAS TENTANG SEJARAH BERDIRINYA HKI

Sejalan dengan lahirnya Hari Kebangkitan Nasional melalui pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, serta didorong oleh keinginan kemandirian gereja dari RMG dan penolakan mendirikan jemaat baru di Pantoan oleh misionaris RMG di Pematangsiantar, maka muncul gagasan untuk mendirikan gereja baru di Pantoan yang kemudian disebut Hoeria Christen Batak (H.Ch.B).

H.Ch.B yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai kumpulan partai politik mengalami banyak penderitaan. Karena tidak diakui sebagai gereja, H.Ch.B tidak diberi hak untuk melayani sakramen (baptisan dan Perjamuan Kudus) oleh pemerintah Belanda.

Atas dasar itu, pimpinan H.Ch.B, yaitu Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean dan Sekretaris I.M. Titoes Lumban Gaol, mengajukan permohonan rechtpersoon dan izin pelayanan sakramen kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta pada tanggal 9 September 1929 dan kembali pada 1 Agustus 1931, namun tidak mendapat jawaban.

Dengan penuh pergumulan dan doa, serta dukungan jemaat, akhirnya dilakukan upaya keberangkatan ke Batavia. Melalui bantuan seorang pengacara bernama Mr. Hanif, Voorzitter F.P. Sutan Maloe Panggabean berhasil menemui Gubernur Jenderal di Buitenzorg (Bogor).

Pada tanggal 27 Mei 1933, rechtpersoon diberikan, dan sepuluh hari kemudian izin melaksanakan sakramen juga disetujui. Menyadari pentingnya pelayanan sakramen, pada tahun 1933 Voorzitter F.P. Sutan Maloe Panggabean ditahbiskan menjadi pendeta.

Perjalanan ini menunjukkan kegigihan, semangat, dan militansi para pendiri H.Ch.B dalam mempertahankan eksistensi gereja.

Pada awalnya, H.Ch.B menyatakan diri sebagai gereja suku Batak. Namun, dengan kesadaran sebagai garam dan terang dunia serta melihat konteks masyarakat yang majemuk, pada tanggal 16–17 November 1946 dalam Sinode di Patane Porsea, H.Ch.B berubah nama menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI).

Perubahan ini menunjukkan kesadaran kebangsaan yang tinggi. Selama 40 tahun, HKI berjalan sendiri tanpa dukungan pihak luar, namun tetap bertumbuh dan berkembang hingga keluar Sumatera Utara.

FANATISME WARGA HKI DAN PERTUMBUHAN GEREJA

Pertumbuhan gereja HKI dapat dikatakan mengesankan jika ditinjau dari sejarahnya. Dari hanya 5 jemaat pada periode 1927–1935, kini HKI telah berkembang menjadi lebih dari 100 resort dengan lebih dari 700 jemaat di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan ini terjadi karena penyertaan Tuhan serta beberapa faktor, antara lain:

  • Rasa cinta dan militansi warga jemaat terhadap HKI
  • Adanya identity worship HKI
  • Rasa kebersamaan yang kuat
  • Sistem manajemen gereja yang semakin baik
  • Dedikasi para pelayan (pendeta, sintua, guru jemaat, bibelvrouw, diaken)

Secara umum, dapat dikatakan bahwa keberlangsungan HKI hingga saat ini tidak terlepas dari fanatisme positif warga jemaat yang diwujudkan dalam pertumbuhan gereja.

MASALAH DAN TANTANGAN DALAM PERKEMBANGAN GEREJA

Dalam perkembangannya, gereja menghadapi tantangan internal dan eksternal.

Tantangan Internal

  • Sikap pembenaran diri
  • Perbedaan pemahaman
  • Kepemimpinan yang otoriter
  • Ketidaktegasan dalam penerapan aturan
  • Budaya paternalistik
  • Penolakan terhadap pembaruan

Tantangan Eksternal

  • Revolusi spiritual
  • Fundamentalisme agama
  • Kemiskinan

Perkembangan dunia modern menuntut gereja untuk bersikap dialogis, bukan konfrontatif, agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

MENANAM DAN MEMBANGUN RASA FANATISME BAGI WARGA HKI

Untuk menumbuhkan fanatisme yang sehat, beberapa langkah dapat dilakukan:

  • Pendidikan sejarah HKI sejak Sekolah Minggu
  • Pengajaran dalam kelas sidi
  • Sosialisasi sejarah HKI kepada jemaat
  • Pembinaan berbasis komunitas (komunitas basis)
  • Penguatan teologi Lutheran (Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura, Solus Christus)

Komunitas basis menjadi sarana penting dalam membangun persekutuan, pelayanan, dan kesaksian iman secara nyata.

KESIMPULAN

Sejarah HKI menunjukkan adanya semangat kemandirian, kebersamaan, dan militansi yang tinggi dari para pendirinya.

Pertumbuhan HKI tidak terlepas dari fanatisme positif warga jemaat. Tantangan masa kini dan masa depan harus dijawab dengan penguatan spiritualitas, kebersamaan, dan strategi pelayanan yang kontekstual.

Pengembangan gereja tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan kuantitatif, melainkan pada pembangunan spiritual yang komunal, kontekstual, dan partisipatif.

Ribuan-Jemaat-Padati-Ibadah-Raya- Paskah-PWGSU-2026- Seruan-Hidup-Baru-Menggema-Generasi-Muda-Bangkit
Ribuan Jemaat Padati Ibadah Raya Paskah PWGSU 2026: Seruan Hidup Baru Menggema, Generasi Muda Bangkit!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *