Lelah Boleh, Berhenti Berbuat Baik Jangan
Galatia 6:9-10 “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
Kiranya Damai Sejahtera Allah Bapa, itulah yang melampaui segala akal pikiran kita dalam memahami Firman-Nya. Amen
Selamat pagi, selamat menutup minggu. Mungkin ada rasa lelah karena terus berusaha berbuat baik kepada orang lain, tapi balasannya tidak selalu setimpal, bahkan kadang dibalas dengan sikap acuh atau tidak dihargai sama sekali. Muncul pertanyaan, apakah masih layak terus berbuat baik kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.
Renungan hari ini mengajak untuk merenungkan Galatia 6:9-10, tentang bagaimana kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia di mata Tuhan, meski terkadang terasa melelahkan dan tidak mendapat balasan yang sepadan.
Pendalaman Alkitab
Galatia 6:9-10 menuliskan, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila kita tidak menjadi lemah, kita akan menuai pada waktunya. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman. Paulus menuliskan ini sebagai penguatan bagi jemaat yang mungkin mulai merasa lelah dalam melakukan kebaikan, terutama ketika hasilnya belum terlihat atau tidak dihargai sebagaimana mestinya.
Kata “jemu-jemu” menggambarkan kondisi lelah dan ingin menyerah karena proses yang panjang tanpa hasil yang segera terlihat. Namun Paulus menegaskan bahwa ada waktu menuai yang pasti datang, asalkan tidak menyerah di tengah jalan. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kesempatan untuk berbuat baik itu terbatas, sehingga penting untuk memanfaatkannya selagi masih ada, tanpa menunggu balasan yang setimpal sebagai syarat untuk terus melakukannya.
Isi Renungan
Berbuat baik kepada orang lain, entah membantu rekan kerja, mendukung teman yang kesulitan, atau melayani di gereja, kadang terasa melelahkan ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Ada yang membalas dengan sikap tidak peduli, ada yang justru memanfaatkan kebaikan itu, dan ada juga yang sama sekali tidak menyadari usaha yang sudah dilakukan. Kondisi ini bisa membuat seseorang mulai berpikir untuk berhenti saja, karena merasa kebaikannya tidak dihargai.
Galatia 6:9-10 memberi penguatan bahwa kelelahan dalam berbuat baik itu wajar dirasakan, tapi bukan alasan untuk berhenti sepenuhnya. Balasan dari manusia memang tidak selalu setimpal, tapi kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah luput dari perhatian Tuhan. Ada waktu menuai yang dijanjikan, meski waktu itu tidak selalu sama dengan waktu manusia berharap melihat hasilnya.
Lelah karena terus berbuat baik itu manusiawi dan boleh diakui. Tapi berhenti berbuat baik karena kecewa dengan balasan yang tidak setimpal adalah pilihan yang berbeda, dan itu bukan yang diajarkan firman Tuhan. Menutup minggu ini dengan tetap memilih berbuat baik, meski lelah, adalah bentuk kepercayaan bahwa Tuhan melihat dan menghargai ketulusan hati, bukan sekadar hasil yang terlihat dari manusia.
Aplikasi Sehari-hari
- Kalau merasa lelah karena kebaikan yang dilakukan belum dibalas setimpal, ingatkan diri bahwa Tuhan tetap melihat ketulusan hati di balik setiap tindakan itu.
- Tetap lakukan satu tindakan baik hari ini, meski kecil, tanpa mengharapkan balasan langsung dari orang yang menerimanya.
- Beri waktu istirahat bagi diri sendiri ketika lelah, tapi jangan biarkan kelelahan itu berubah menjadi alasan untuk berhenti sepenuhnya berbuat baik.
Doa
Tuhan, aku membawa kelelahanku karena terus berusaha berbuat baik, meski balasannya sering tidak sesuai harapan. Ajar aku untuk tidak menjadi jemu, tapi tetap setia berbuat baik, karena aku percaya Engkau melihat ketulusan hatiku. Kuatkan aku di tengah kelelahan ini, dan ingatkan aku bahwa waktu menuai akan tiba pada waktu-Mu. Jangan biarkan aku berhenti berbuat baik hanya karena belum melihat hasilnya. Dalam nama Yesus, amin.






