Sebuah Refleksi Teologis, Pastoral, dan Manajemen Modern
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, menghakimi, apalagi menggeneralisasi para pendeta. Saya sangat menghormati panggilan kependetaan dan menyadari bahwa menjadi seorang pendeta bukanlah pekerjaan yang ringan. Ada beban rohani, tanggung jawab pastoral, pergumulan jemaat, persoalan keluarga, dan berbagai tuntutan pelayanan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.
Tulisan ini lebih merupakan refleksi dari pengalaman praktis dan pengamatan terhadap dinamika pelayanan gereja, khususnya dalam konteks gereja-gereja yang sudah besar dan relatif mapan di kota-kota besar.
Justru karena gereja semakin besar, fasilitas semakin lengkap, struktur organisasi semakin kuat, dan sumber daya pelayanan semakin tersedia, saya merasa kita perlu bertanya secara jujur: Apakah sistem kepemimpinan dan akuntabilitas pelayanan kita juga sudah berkembang seiring dengan besarnya gereja?
Pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang salah.
Ini adalah pertanyaan untuk memperbaiki sistem, memperkuat pelayanan, dan mengembalikan jabatan kependetaan kepada hakikat panggilannya: melayani.
KETIKA YANG SEHARUSNYA MELAYANI JUSTRU MENUNTUT DILAYANI
Ada sebuah paradoks yang patut kita renungkan.
Tuhan Yesus yang adalah Tuhan dan Guru justru memilih jalan pelayanan.
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Markus 10:45)
Dalam Yohanes 13, Yesus bahkan membasuh kaki murid-murid-Nya. Ini bukan sekadar cerita tentang kerendahan hati. Ini adalah paradigma kepemimpinan Kristen. Pemimpin tertinggi justru mengambil posisi terendah untuk melayani.
Karena itu, semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur gereja, seharusnya semakin besar pula kesediaannya untuk melayani.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
– Apakah kepemimpinan pastoral kita hari ini sudah benar-benar mencerminkan model kepemimpinan Kristus?
– Atau tanpa kita sadari, jabatan pelayanan mulai bergeser menjadi jabatan yang menuntut untuk dilayani?
DARI SERVANT LEADERSHIP KE “EXECUTIVE POSITION”
Dalam ilmu manajemen modern dikenal konsep Servant Leadership, yang dipopulerkan oleh Robert K. Greenleaf.
Prinsip dasarnya sederhana:
Seorang pemimpin yang baik pertama-tama adalah seorang pelayan.
Menariknya, gereja sebenarnya tidak membutuhkan teori manajemen modern untuk menemukan konsep ini.
Kristus sudah memberikan teladannya hampir dua ribu tahun yang lalu.
Karena itu, ketika teori manajemen modern berbicara tentang servant leadership, gereja seharusnya justru menjadi institusi yang paling konsisten menerapkannya.
Masalah muncul ketika jabatan pendeta perlahan-lahan diperlakukan seperti executive position, tetapi tanpa sistem executive accountability yang memadai.
Di beberapa gereja besar perkotaan, seorang pendeta dapat memiliki:
– gaji dan tunjangan;
– rumah atau fasilitas tempat tinggal;
– fasilitas transportasi atau operasional;
– sekretariat;
– dukungan administrasi;
– sintua;
– seksi-seksi pelayanan;
– panitia;
– kelompok kategorial;
– serta jemaat yang besar.
Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah.
Sebaliknya, gereja memang harus memberikan dukungan yang layak kepada pelayan Tuhan.
Tetapi justru karena sumber daya yang dipercayakan semakin besar, pertanyaan tentang tanggung jawab dan hasil pelayanan seharusnya juga semakin serius.
KALAU SEPERTI MANAGER, MENGAPA TIDAK ADA JOB DESCRIPTION DAN KPI?
Di dunia profesional, seorang manager hampir tidak mungkin bekerja tanpa:
Job Description → Target → KPI → Review → Feedback → Improvement.
Seorang manager tidak cukup mengatakan: “Saya sudah bekerja.”
Pertanyaan organisasinya adalah:
– Apa yang menjadi tanggung jawab Anda?
– Apa target Anda?
– Apa hasil yang dicapai?
– Apa yang belum tercapai?
– Mengapa tidak tercapai?
– Apa rencana perbaikannya?
Itulah yang disebut accountability.
Pertanyaannya:
– Mengapa prinsip yang dianggap sehat dalam organisasi modern justru sering terasa tabu ketika dibicarakan dalam organisasi gereja?
– Apakah berbicara tentang KPI otomatis berarti menjadikan gereja sebagai perusahaan?
Jawabannya adalah “Tidak”.
KPI bukan berarti iman diubah menjadi angka.
KPI adalah salah satu instrumen untuk memastikan bahwa mandat dan tanggung jawab tidak berhenti sebagai konsep.
PELAYANAN ROHANI MEMANG TIDAK SELURUHNYA DAPAT DIUKUR
Ini penting.
Kita tidak boleh melakukan kesalahan dengan mengukur pelayanan pendeta hanya berdasarkan angka.
– Jumlah jemaat yang hadir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
– Jumlah baptisan bukan satu-satunya ukuran.
– Jumlah kegiatan bukan satu-satunya ukuran.
– Pertumbuhan persembahan juga bukan ukuran tunggal kesehatan gereja.
– Pertumbuhan iman tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam spreadsheet.
Tetapi sebaliknya, mengatakan bahwa pelayanan tidak dapat diukur sama sekali juga bukan argumentasi yang tepat.
Yesus berbicara tentang buah:
“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”
(Matius 7:16)
Paulus berbicara tentang pekerjaan yang akan diuji.
Gembala dalam Alkitab menerima tanggung jawab terhadap kawanan domba yang dipercayakan kepadanya.
Jadi, prinsipnya jelas:
Tidak semua pelayanan dapat dikuantifikasi, tetapi semua pelayanan dapat dipertanggungjawabkan.
Inilah perbedaannya.
LALU APA KPI UNTUK SEORANG PENDETA?
KPI pendeta tentu tidak boleh disalin mentah-mentah dari dunia korporasi.
KPI pastoral harus dibangun berdasarkan mandat teologis dan kebutuhan jemaat.
Misalnya:
1. Pemuridan.
Apakah jemaat semakin bertumbuh dalam kedewasaan iman?
2. Pastoral Care.
Bagaimana pelayanan kepada jemaat yang sakit, berduka, lanjut usia, mengalami krisis keluarga, atau menghadapi persoalan kehidupan?
3. Pembinaan Generasi Muda.
Apakah gereja berhasil membangun generasi penerus atau justru kehilangan anak-anak muda?
4. Regenerasi Pelayan.
Berapa banyak pemimpin dan pelayan baru yang berhasil dibentuk?
5. Pembinaan Keluarga.
Apakah gereja memiliki program yang nyata untuk memperkuat keluarga Kristen?
6. Pengajaran dan Khotbah.
Bagaimana kualitas pengajaran, khotbah, dan pembinaan teologi jemaat?
7. Penginjilan dan Misi.
Apakah gereja hanya sibuk mengurus dirinya sendiri atau juga menjangkau orang di luar gereja?
8. Pelayanan Sosial.
Bagaimana gereja hadir bagi mereka yang miskin, marginal, sakit, kesepian, dan membutuhkan pertolongan?
9. Keterlibatan Jemaat.
Apakah jemaat semakin menjadi pelaku pelayanan atau hanya menjadi penonton?
10. Kesehatan Organisasi. Gereja:
– Apakah konflik menurun?
– Apakah komunikasi membaik?
– Apakah kolaborasi antarpelayan semakin sehat?
Inilah yang saya maksud dengan Pastoral KPI. Bukan mengukur berapa banyak jiwa dengan kalkulator. Tetapi memastikan bahwa mandat penggembalaan benar-benar dijalankan.
JAM KERJA BOLEH FLEKSIBEL, TETAPI TANGGUNG JAWAB TIDAK BOLEH KABUR
Saya juga memahami bahwa pekerjaan seorang pendeta tidak sama dengan pekerjaan kantor.
– Pendeta bisa dipanggil melayani orang sakit tengah malam.
– Bisa menghadiri kedukaan.
– Bisa menghadapi krisis keluarga jemaat.
– Bisa bekerja pada hari Sabtu dan Minggu ketika orang lain sedang beristirahat.
Karena itu, jam kerja pendeta memang tidak selalu dapat disamakan dengan jam kerja pegawai kantor.
Tetapi fleksibilitas waktu tidak boleh berubah menjadi ketidakjelasan tanggung jawab.
Kalau jam kerja fleksibel, maka output dan tanggung jawab harus semakin jelas.
Prinsipnya sederhana:
Flexible Working ≠ Flexible Accountability.
Kita tidak perlu bertanya:
“Jam berapa pendeta masuk kantor?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang dikerjakan, siapa yang dilayani, apa yang dibangun, dan apa buah pelayanannya?”
SINTUA, SEKSI DAN PANITIA BUKAN “PEMBANTU” PENDETA
Ini juga harus dikatakan dengan hati-hati.
Sintua, seksi, panitia, dan jemaat bukanlah bawahan seorang pendeta.
Mereka adalah mitra pelayanan dalam tubuh Kristus.
Maka jangan sampai struktur organisasi gereja secara tidak sadar menciptakan pola:
Pendeta memerintah → Sintua melaksanakan → Seksi mengerjakan → Panitia menyelesaikan.
Lalu pendeta tinggal mengawasi dari atas.
Itu bukan model kepemimpinan Kristus.
Model Kristus adalah:
– Pemimpin turun tangan.
– Pemimpin memberi teladan.
– Pemimpin berjalan bersama.
– Pemimpin memikul beban.
– Pemimpin membentuk orang lain menjadi pemimpin.
Seorang pendeta tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.
Tetapi ia harus menjadi penggerak utama, bukan sekadar penerima pelayanan dari orang-orang yang berada di bawah struktur pelayanan.
PRAESES DAN EPHORUS JUGA HARUS MEMIKUL TANGGUNG JAWAB GOVERNANCE
Pertanyaan ini bahkan lebih besar.
Kalau seorang pendeta ditempatkan pada jemaat besar, siapa yang menetapkan mandatnya?: Apakah Praeses?, Ephorus?, Sinode?,
Majelis?
– Apa ekspektasinya?
– Apa prioritasnya?
– Apa target lima tahunan?
– Bagaimana evaluasinya?
– Bagaimana mekanisme performance review-nya?
– Bagaimana jika kinerja pelayanan tidak sesuai mandat?
– Apakah hanya diperpanjang karena tidak ada masalah besar?
– Atau benar-benar dilakukan evaluasi secara objektif?
Dalam manajemen modern, delegation of authority selalu harus diikuti accountability.
Tidak cukup memberikan jabatan. Harus ada:
Authority + Responsibility + Accountability.
Kalau gereja memberikan otoritas dan fasilitas tetapi tidak membangun mekanisme akuntabilitas, maka persoalannya bukan semata-mata pada pendeta.
Persoalannya ada pada governance gereja.
GEREJA BUKAN PERUSAHAAN, TETAPI BUKAN BERARTI GEREJA BOLEH TANPA MANAJEMEN
Ini argumentasi yang sering kita dengar: “Gereja bukan perusahaan.”
Benar.
Gereja bukan perusahaan.
Tetapi gereja tetap membutuhkan:
– kepemimpinan;
– perencanaan;
– organisasi;
– pembagian tugas;
– pengelolaan sumber daya;
– evaluasi;
– pengendalian;
– akuntabilitas;
– dan tata kelola.
Mengelola gereja dengan prinsip manajemen yang sehat tidak berarti mengkomersialkan gereja.
Justru karena gereja adalah milik Kristus, sumber daya gereja harus dikelola dengan lebih bertanggung jawab.
Dalam perspektif stewardship:
– Apa yang kita terima bukan milik kita.
– Kita hanya dipercaya untuk mengelolanya.
– Maka semakin besar yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawabnya.
JANGAN SAMPAI PELAYANAN BERUBAH MENJADI PRIVILEGE
Inilah titik paling sensitif.
Jabatan pendeta adalah panggilan.
Tetapi panggilan tidak boleh berubah menjadi privilege tanpa accountability.
Fasilitas yang diberikan gereja bukan hak untuk hidup nyaman tanpa tuntutan pelayanan.
– Gaji bukan upah untuk sekadar menduduki jabatan.
– Rumah bukan simbol status.
– Sintua bukan tenaga pembantu.
– Seksi bukan staf pribadi.
– Panitia bukan tenaga operasional.
– Jemaat bukan pelanggan.
– Dan pendeta bukan CEO yang harus dilayani semua orang.
Semuanya adalah bagian dari tubuh Kristus.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya terus hidup dalam diri seorang pelayan Tuhan adalah: “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki saya kerjakan dengan jemaat yang Engkau percayakan kepada saya?”
Bukan: “Apa yang dapat jemaat lakukan untuk saya?”
AKHIRNYA, KITA KEMBALI KEPADA KRISTUS
Kristus tidak berkata:
“Layani Aku karena Aku Tuhan.”
Justru Kristus datang dan berkata:
“Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai Dia yang melayani.”
(Lukas 22:27)
Inilah standar tertinggi kepemimpinan Kristen.
Maka semakin tinggi posisi seorang pendeta dalam struktur gereja, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya.
Semakin besar gerejanya, semakin besar tanggung jawab pastoralnya.
Semakin lengkap fasilitasnya, semakin besar tuntutan stewardship-nya.
Semakin banyak orang yang membantunya, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk mengembangkan orang-orang tersebut, bukan sekadar menggunakan tenaga mereka.
Dan semakin besar mandat yang diberikan oleh Praeses, Ephorus, atau pimpinan gereja, semakin jelas pula seharusnya target, ekspektasi, evaluasi, dan accountability-nya.
– Bukan untuk mempermalukan pendeta.
– Bukan untuk mengukur iman dengan angka.
– Bukan untuk menjadikan gereja seperti korporasi.
Tetapi justru untuk menjaga agar jabatan pelayanan tetap menjadi pelayanan.
Sebab pada akhirnya seorang pendeta tidak hanya mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada organisasi gereja.
Ia akan mempertanggungjawabkannya kepada Kristus, Sang Kepala Gereja.
Dan mungkin pertanyaan paling sederhana sekaligus paling berat bagi setiap pelayan Tuhan adalah:
Bukan “berapa banyak orang yang melayani saya?”
Tetapi:
“Berapa banyak orang yang menjadi lebih dekat kepada Kristus karena saya memilih untuk melayani mereka?”
Karena pada akhirnya,
pendeta bukan dipanggil untuk menjadi orang yang paling banyak dilayani.
Pendeta dipanggil untuk menjadi salah satu orang yang paling sungguh-sungguh melayani.
Sebab Guru dan Tuhan yang kita ikuti pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
Terimakasih, salam hangat dan mohon maaf jika tulisan ini kurang berkenan. Pewarta: St. Juanto Sitorus – Melayani di HKBP Taman Mini, Jakarta






